Headlines News :

Video Kesaksian Murtadin

Latest Post

Muhammad Tidak Membawa Manfaat

Written By Islam Dalam Fakta on Kamis, 06 Juni 2013 | 22.25

Muslim pasti tidak setuju dengan pernyataan itu. Anda tidak perlu terkejut jika ternyata judul di atas justeru ke luar dari bibir Awloh. Muhamamd adalah hamba dan penyembah Awloh. Ketika Muhammad sedang menyembah Awloh. Jin-jin mengerumininya dan hampir-hampir mereka desak-mendesak.

Perhatikan perkataan Awloh berikut ini:

[QS 72.19] Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.

Ketika Awloh melihat Jin-jin mengerumuni Muhamamd, Awloh menurunkan ayatnya. Ayat Awoloh ini tentu sangat menyakitkan hati Muhamamd.

[QS 72.20] Katakanlah: "Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya". [QS 72.21] Katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan".

Muhammad pun di azab Awloh. Itulah sebabnya tidak seorang pun yang dapat melindungi Muhammad selain dari Awloh yang mengazabnya.

[QS 72.22] Katakanlah: "Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya".

Re: Muhammad Tidak Membawa Manfaat

Post  Udin on Tue Apr 19, 2011 8:38 pm
Duel wrote:
Muslim pasti tidak setuju dengan pernyataan itu. Anda tidak perlu terkejut jika ternyata judul di atas justeru ke luar dari bibir Awloh. Muhamamd adalah hamba dan penyembah Awloh. Ketika Muhammad sedang menyembah Awloh. Jin-jin mengerumininya dan hampir-hampir mereka desak-mendesak.

Perhatikan perkataan Awloh berikut ini:

[QS 72.19] Dan bahwasanya tatkala hamba Allah (Muhammad) berdiri menyembah-Nya (mengerjakan ibadah), hampir saja jin-jin itu desak mendesak mengerumuninya.

Ketika Awloh melihat Jin-jin mengerumuni Muhamamd, Awloh menurunkan ayatnya. Ayat Awoloh ini tentu sangat menyakitkan hati Muhamamd.

[QS 72.20] Katakanlah: "Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya". [QS 72.21] Katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak kuasa mendatangkan sesuatu kemudaratan pun kepadamu dan tidak (pula) sesuatu kemanfaatan".

Muhammad pun di azab Awloh. Itulah sebabnya tidak seorang pun yang dapat melindungi Muhammad selain dari Awloh yang mengazabnya.

[QS 72.22] Katakanlah: "Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya".


Sebagai manusia biasa,perilaku Nabi Muhammad SAW selalu ada batasnya sejak beliau masih remaja.Mengapa manusia yang dipilih menjadi nabi, bukan malaikat, hal itu dijelaskan dalam Alquran Surat Al An'am ayat 89.
Sumber: AkalBudiIslam

Kembali Ke Atas Go down

Akhlak Nabi Muhammad

Perjalanan hijrah Rasulullah dari Makkah ke Madinah merupakan momentum awal untuk keme-nangan Islam dari masyarakat Jahiliyah. Melalui proses hijrah Nabi Muhammad melakukan konsolidasi untuk memba-ngun masyarakat Islam, yang berke-adilan. Cita-cita Islam adalah membe-baskan manusia dari penindasan atas nama suku, agama, ras, dan golongan. Islam hadir untuk memberikan rasa keadilan pada manusia.

Hijrah, paling tidak, mempu-nyai berbagai aspek, aspek teologis dan sosiologis. Dari aspek teologis, hijrah merupakan peristiwa supranatural. Tuhan berperan secara langsung baik dalam penyiapan, perencanaan, mau-pun perlindungannya. Al-Quran meng-isyaratkan peristiwa itu:
“Apakah mereka (kaum kafir Makkah) berkata, Kami adalah kelompok yang menang? Kelompok mereka itu akan dihancurkan, dan mereka lari terbirit-birit. Sungguh, saat itu akan datang sebagai janji kepada mereka, dan saat itu akan sangat menyedihkan dan sangat pahit (bagi mereka).” (QS. Al-Qalam/54:45-47).

Ayat yang lain bahkan meng-gambarkan kemenangan Nabi Muham-mad Saw setelah hijrahnya, dengan izin Allah.
“Sesungguhnya yang mewajibkan atasmu melaksanakan al-Quran, akan mengem-balikanmu ke tempatmu semula (Makkah)”. (QS. Al-Qashash/28:85).
Aspek teologis hijrah memang mempunyai landasan pendukung. Na-mun hijrah bukanlah semata-mata peristiwa teologis. Sisi sosiologis sejarah yang merupakan penguat hijrah, ditandai dengan meninggalnya paman Nabi, Abu Thalib dan istri Nabi Khadijah; peng-asingan kepada kaum muslimin dan penyiksaan-penyiksaan yang dilakukan kafir Quraisy kepada kaum muslimin; dan perjanjian aqabah I dan aqabah II. Peris-tiwa-peristiwa ini memberikan landasan sosiologis kepada Nabi untuk melaksana-kan hijrah.
***

Hijrah merupakan sebuah momentum untuk mengembalikan keperca-yaan diri kaum muslimin terhadap ajaran yang selama ini diyakini dengan begitu banyak pengorbanan. Sejarah mencatat bagaimana sahabat Nabi seperti Bilal dan Salman al-Farisi yang disiksa kafir Quraisy karena keyakinan keislaman-nya.

Hijrah membentangkan sebuah harapan untuk membangun masa depan yang lebih baik. Sebuah tatanan masya-rakat yang merupakan kemestian Ilahi. Hijrah merupakan perlawanan terhadap penindasan kekuasaan dengan melaku-kan pembinaan masyarakat pada tempat yang sesuai. Madinah, sebagai sasaran hijrah, merupakan kota perlawanan, kota perjuangan untuk merebut keme-nangan.

Hijrah bukan-lah pelarian karena ke-takutan terhadap kema-tian, karena tidak mung-kin Rasulullah takut terhadap kematian. Ka-rena jika Rasulullah mempertahankan kebe-radaannya kaum musli-min di Makkah, maka ini akan menyulitkan kaum muslimin itu sen-diri, yang waktu baru berjumlah 100-an orang. Rasulullah sendiri berhijrah setelah mem-persiapkan kondisi psi-kologis dan sosiologis di kota Madinah dengan mengadakan perjanjian Aqabah I dan Aqabah II.
***

Mengembangkan makna hijrah untuk menarik relevansi kekiniannya, jelas tidak harus menggunakan parameter sosiologis sejarah jaman Rasulullah. Karena menarik sosiologi sejarah men-jadi kemestian yang harus dilalui itu merupakan kemuskilan. Karena Rasu-lullah telah tiada. Jadi memaknai makna hijrah saat ini adalah dengan menarik peristiwa itu sebagai ibrah (pelajaran).

Jadi tidak ada salahnya jika belajar dari peristiwa hijrah untuk dijadikan pelajaran dalam menye-lesaikan persoalan bangsa ini. Sehingga krisis yang melanda bangsa ini tidak berkepanjangan.

Ibrah dari peristitwa hijrah dapat ditarik relevansinya dengan melihat persoalan-persoalan yang mengelayuti bangsa ini. Tidak dapat dipungkiri bangsa ini sedang dirundung krisis yang tidak kunjung selesai-selesai. Berbagai krisis yang menerpa bangsa ini bagai benang kusut yang untuk menyelesaikan-nya mengalami kesu-litan yang luar biasa. Padahal bangsa ini sudah mempunyai be-gitu banyak orang pin-tar, tapi di sinilah jus-tru letak kesulitannya. Karena kepintaran yang diiringi dengan egoisme justru mem-peruwet masalah. Apa-lagi jika kepintaran diiringi dengan nafsu kekuasaan dan keka-yaan akan makin mem-persulit penyelesaian.

Ada dua hal yang dapat ditarik kesimpulan dari peristiwa hijrah masa Rasulullah. Pertama, siapnya kondisi sosiologis dari masyarakat Makkah dan Madinah, baik yang akan pindah dan yang menampung kepindahan. Kedua, adanya kepemimpinan yang memberi-kan rasa perlindungan dan keadilan pada kedua masyarakat itu, sehingga di Madinah tercipta suatu masyarakat madani. Yaitu masyarakat yang plural, inklusif, berkeadilan sosial dan demo-kratis.

Hijrah merupakan konsep yang harus dilakukan dalam konteks kondisi bangsa Indonesia yang sedang krisis. Dalam perjalanannya, wajah Indonesia, setelah lebih dari lima puluh lima tahun merdeka, ternyata tidak mengarah pada cita-cita awal pendirian bangsa ini. Banyak persoalan yang menggelayut menjadi agenda besar. Persoalan krisis sosial-ekonomi-politik kemudian berim-bas pada disintegrasi bangsa. Tak ada kebanggaan berbangsa dan bernegara Indonesia.

Dari pelajaran hijrah di atas, kita dapat simpulkan bahwa untuk memba-ngun bangsa ini menuju cita-citanya —bangsa dengan masya-rakat yang adil, makmur dan sejahtera — kita perlu menyiapkan bebe-rapa hal. Prasyarat per-tama mempersiapkan kondisi sosiologis yang mampu menerima ide-ide perbaikan. Kita perlu melakukan penyadaran kepada masyarakat baik di kalangan elite mau-pun akar rumput untuk menerima bahwa Bangsa Indonesia merupakan bangsa dengan beragam suku, agama dan budaya. Membangun kesadaran pada tiga hal ini haruslah dikembangkan pada segala lapisan masyarakat.

kita perlu memberikan cara pandang pada masyarakat bahwa perbe-daan suku, agama dan budaya bukanlah suatu sekat sosial apalagi sumber konflik sosial. Justru semua ini merupakan kekayaan bangsa yang harus dikembang-kan untuk membangun bangsa yang makin beradab. Semua perbedaan itu bukan menjadi media penghalang untuk mengembangkan kreativitas dan mem-bangun persaudaraan antar sesama anak bangsa. Aset untuk saling mengenal antar sesama anak bangsa.

Sedangkan prasyarat kedua adalah membangun pemerintahan yang berwibawa; yang memberikan perlin-dungan hukum dan keadilan pada segenap lapisan masya-rakat; yang tidak me-mandang keberadaan hukum hanya untuk ma-syarakat bawah, sedang-kan lapisan elite terabai-kan oleh kekuatan hu-kum. Penegakan supre-masi hukum inilah yang akan memberikan wiba-wa kepada pemerintah.

Penundaan hukum ter-hadap segala tindak ke-jahatan kemanusiaan, bukan saja memberikan rasa ketidakadilan hu-kum di masyarakat tapi juga menimbulkan ke-tidakpastian hukum. Akibatnya, masyarakat mengambil langkah-langkah di luar jalur hukum, yang kemu-dian menimbulkan potensi konflik horizontal, resistensi kesukuan dan agama. Seharusnya begitu terjadi peristi-wa pelanggaran hukum, maka penegakan hukum harus ditindak. Karena jika sudah meluas proses penyelesaian secara hukum amat sulit sekali.
Membangun masyarakat yang beradab, berkeadilan dan demokratis yang menjadi cita-cita bersama sesama anak bangsa, tentu hanya menjadi sekadar harapan jika kemauan dari seluruh masyarakat khususnya elite masyarakat tidak berkeinginan untuk memperbaiki keadaan. Alih-alih mem-perbaiki keadaan, bahkan justru meng-ambil keuntungan dari keadaan seperti ini.

Ayat al-Quran yang paling sarat memuji Nabi Muhammad Saw adalah ayat yang berbunyi wa innaka la’alâ khuluqin ‘azîm, sesungguhnya engkau (hai Muhammad) memiliki akhlak yang sangat agung.

Kata khuluq yang berarti akhlak secara linguistik mempunyai akar kata yang sama dengan khalq yang berarti ciptaan. Be-danya adalah kalau khalq lebih bermakna cip-taan Allah yang bersifat lahiriah dan fisikal, maka khuluq adalah ciptaan Allah yang ber-sifat batiniah. Seorang sahabat pernah me-ngenang Nabi yang mulia dengan kalimat be-rikut kâna Rasûlullâh ahsanan nâsi khalqan wa khuluqan, bahwa Rasulullah Saw adalah ma-nusia yang terbaik secara khalq dan khuluq. Dengan kata lain, Nabi Muhammad Saw ada-lah manusia sempurna dalam segala aspek, baik lahiriah maupun batiniahnya.

Kesempurnaan lahirah beliau sering kita dengar dari riwayat-riwayat para sahabat yang melaporkan tentang sifat-sifat beliau. Hindun bin Abi Halah misalnya mendes-kripsikan sifat-sifat lahiriah Nabi seperti berikut:
"Nabi Muhammad Saw adalah se-orang manusia yang sangat anggun, yang wajahnya bercahaya bagaikan bulan purnama di saat sempurnanya. Badannya tinggi sedang. Postur tubuhnya tegap. Rambutnya ikal dan panjang yang tidak melebihi daun telinganya. Warna kulitnya terang. Dahinya luas. Alisnya memanjang halus, bersambung dan indah. Sepotong urat halus membelah kedua alisnya yang akan tampak timbul di saat marahnya. Hidungnya mancung sedikit membengkok, yang di bagian atasnya berkilau cahaya. Jang-gutnya lebat. Pipinya halus. Matanya hitam. Mulutnya sedang. Giginya putih tersusun rapi. Dadanya bidang dan berbulu ringan. Leher-nya putih, bersih dan kemerah-merahan. Perutnya rata dengan dadanya.

Bila berjalan, jalannya cepat laksana orang yang turun dari atas. Bila menoleh, selu-ruh tubuhnya menoleh. Pandangannya lebih banyak ke arah bumi ketimbang langit yang kebanyakannya merenung. Beliau mengiringi sahabat-sahabatnya di saat berjalan, dan beliau jugalah yang memulai salam."

Deskripsi para sahabat Nabi tentang sifat-sifat manusia yang agung seperti ini akan banyak Anda temukan di dalam kitab-kitab semacam Maulid yang lazim dibaca di tanah air kita, seperti Barzanji, Diba, Simthu ad-Durar dan sebagainya. Kita dibawa hanyut oleh para perawi tentang bentuk lahiriah Nabi, sesuatu yang meskipun indah dan sempurna, namun tidak menjadi fokus pandangan al-Quran terhadapnya.

Lalu, apa yang menjadi fokus panda-ngan al-Quran terhadap Nabi Saw? Jawabnya adalah khuluq-nya alias akhlaknya, seperti yang kita kutipkan ayatnya di atas. Apa arti akhlak? Kata Ghazâlî, akhlak adalah wajah batiniah manusia. Ia bisa indah dan bisa juga buruk. Akhlak yang indah disebut al-khuluq al-hasan; sementara akhlak buruk disebut al-khuluq as-sayyi’. Akhlak yang baik adalah akh-lak yang mampu meletakkan secara proporsi-onal fakultas-fakultas yang ada di dalam jiwa manusia. Ia mampu meletakkan dan menggu-nakan secara adil fakultas-fakultas yang ada di dalam dirinya: ‘aqliyyah, ghadhabiyyah, syah-waniyyah dan wahmiyyah. Manusia yang ber-akhlak baik adalah orang yang tidak berlaku ifrât alias eksesif dalam menggunakan empat fakultas di atas, dan juga tidak bersifat tafrît alias mengabaikannya secara total. Ia akan sangat adil dan proporsional di dalam meng-gunakan keempat anugerah Ilahi di atas.

Dengan kata lain akhlak yang baik adalah suatu keseimbangan yang sangat adil yang dilakukan oleh seseorang ketika berha-dapan dengan empat fakultasnya di atas. Ia tidak ifrât di dalam menggunakan rasional-itasnya sehingga mengabaikan wahyu, dan ju-ga tidak tafrît sehingga menjadi bodoh. Ia ti-dak ifrât di dalam menggunakan ghadhab atau emosinya sehingga menjadi agresor, namun tidak juga tafrît sehingga menjadi pengecut. Ia tidak ifrât di dalam syahwatnya sehingga menghambur-hamburkan nafsunya, namun juga tidak tafrît seperti biarawan/ti. Ia mampu meletakkannya secara proporsional sehingga ia membagi secara adil mana hak dunianya dan mana hak akheratnya. Kemampuan itu disebut dengan al-khuluq al-hasan.

Orang yang menyandang sifat ini di kedalaman jiwanya sudah pasti akan meman-tulkan suatu bentuk yang sangat indah secara lahiriah di dalam segala aspek kehidupannya sehari-hari; yang -seperti kata sebuah riwayat- dari pancaran wajahnya akan me-mantul sebuah energi yang akan mengingat-kan orang kepada Allah Swt.; yang untaian kata-katanya akan menambahkan ilmu kepa-da setiap orang yang mendengarnya; dan akhlak lahiriahnya bisa menyadarkan orang dari kelalainnya. Akhlak seperti inilah yang ditunjukkan Rasulullah Saw kepada umat-nya. Keluhuran akhlak Nabi Saw ini adalah cermin yang bersih dan indah yang membawa kita untuk bisa berkaca dengannya di dalam kehidupan kita sesama manusia da-lam segala lapisannya. Sebab akhlak Nabi adalah cerminan al-Quran yang sesungguh-nya. Bahkan beliau sendiri adalah al-Quran hidup yang hadir di tengah-tengah ummat manusia. Membaca dan menghayati akhlak beliau berarti membaca dan menghayati isi kandungan al-Quran. Itulah kenapa ‘Aisyah sampai berkata bahwa akhlak Nabi adalah al-Quran.

Hubungan ‘Alî dan Rasulullah Saw
Keluhuran laku Nabi dapat pula di-dengar dari Imam ‘Alî bin Abi Thalib kw, se-pupu dan menantu Nabi, dan orang tidak per-nah kafir seumur hidupnya. Ia pernah berkata berkhutbah tentang hubungannya dengan Nabi:
Ketika masih anak-anak, aku mem-banting dada para lelaki Arab, dan mengalah-kan jagoan-jagoan suku Rabi’ah dan Mudhar. Sungguh kalian mengetahui kedudukanku di sisi Rasulullah Saw. sebagai kerabat yang sangat dekat. Beliau meletakkanku di pangku-annya sementara aku masih kanak-kanak, beliau merangkulku ke dadanya, membaring-kanku di tempat tidurnya, menyentuhkanku ke tubuhnya, sehingga aku mencium aroma-nya. Seringkali beliau mengunyah sesuatu kemudian menyuapkannya untukku. Beliau tidak pernah berbohong dalam ucapannya terhadapku, dan tidak pernah pula salah dalam tindakannya.

Sungguh Allah telah menyertakan malaikat yang paling mulia bersama beliau, sejak beliau disapih, untuk berjalan dengan-nya di atas jalan-jalan kemuliaan dan keluhur-an-keluhuran akhlak, baik siang maupun malam. Sungguh aku sejak dulu mengikuti be-liau seperti seekor anak unta mengikuti jejak kaki induknya. Setiap hari beliau menunjuk-kan kepadaku panji dari akhlaknya, dan me-merintahkanku untuk mengikutinya. Setiap tahun beliau pergi menyendiri ke bukit Hira’, di mana aku melihatnya dan tak seorang pun selainku melihatnya. Pada saat itu, tidak ada satu rumahpun dalam Islam yang mengumpul-kan manusia kecuali Rasulullah Saw dan Kha-dijah, serta akulah orang ketiga dari mereka.

Seringkali aku melihat cahaya wahyu dan kerasulan, dan mencium napas kenabian. Sungguh aku pernah mendengar rintihan setan di saat wahyu turun kepadanya, lalu aku bertanya, "Ya Rasulullah, rintihan apa ini?" Beliau menjawab, "Itu adalah setan. Dia telah bosan dari ibadahnya. Sesungguhnya engkau mendengar apa yang aku dengar dan melihat apa yang aku lihat, hanya saja engkau bukan seorang nabi, tetapi engkau adalah pengganti nabi, dan sesungguhnya engkau berada di atas kebaikan".

Sungguh aku bersama beliau di kala pembesar-pembesar Quraisy mendatanginya, lalu mereka berkata, "Ya Muhammad, sesung-guhnya engkau telah mengakui perkara besar yang tidak pernah diakui oleh nenek moyang-mu dan tidak pula dan menunjukkannya ke-pada kami, maka kami yakin bahwa engkau adalah nabi dan rasul; tetapi, apabila engkau tidak memenuhinya, maka kami anggap eng-kau seorang penyihir dan pembohong."

Rasulullah Saw. berkata, "Apa yang kalian minta?" Mereka berkata, "Engkau panggil pohon itu ke mari sehingga ia tercerabut dengan akar-akamya dan berhenti di hadapanmu". Nabi menjawab, "Sesung-guhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Apabila Allah melakukannya untuk kalian, apakah kalian akan percaya dan memberi kesaksian atas kebenaran ini?" Mereka ber-kata, "Ya". Maka beliau berkata, "Aku akan tunjukkan kepada kalian apa yang kalian inginkan. Sungguh aku yakin bahwa kalian tidak akan tunduk pada kebajikan, dan ada di antara kalian orang yang akan dilemparkan ke dalam lubang, dan ada juga orang yang akan membentuk kelompok-kelompok [melawan-ku]". Kemudian beliau berkata, "Hai pohon, apabila engkau beriman kepada Allah dan ha-ri akhir, dan meyakini bahwa aku adalah utus-an Allah, maka datanglah dengan akar-akar-mu dan berdirilah di hadapanku atas izin Allah".

Demi yang mengutusnya dengan kebenaran, sungguh pohon itu tercerabut de-ngan akar-akarnya dan datang dengan gemu-ruh suara yang kuat dan kepakan seperti kepa-kan sayap burung, sampai ia berhenti di hada-pan Rasulullah Saw berkepak-kepak, dan membentangkan rantingnya yang paling ting-gi di hadapan Rasulullah Saw dan sebagian ran-tingnya terbentang di pundakku, dan aku ber-ada di sisi kanan beliau.

Ketika orang-orang itu melihat itu, mereka berkata dengan angkuh dan sombong, "Sekarang engkau perintahkan agar separuh-nya datang kepadamu dan separuhnya lagi tinggal [di tempatnyal". Beliau memerintah-kan itu, lalu yang separuh datang kepadanya dengan sangat mengagumkan dan dengan ge-muruh suara yang lebih kuat. Hampir saja po-hon itu menyelimuti Rasulullah Saw Kemudi-an mereka berkata dengan kufur dan congkak, "Suruhlah yang separuh itu kembali bersatu dengan separuh yang lainnya seperti sedia kala". Lalu beliau memerin-tahkannya dan pohon itu pun kembali. Lalu aku berkata, "Ti-ada tuhan selain Allah, sesungguhnya aku yang pertama kali beriman kepadamu, ya Rasu-lullah, dan yang pertama kali mengakui bahwa pohon itu telah melakukan apa yang telah dilakukannya dengan perintah Allah Yang Mahamulia, sebagai bukti atas kenabianmu dan sebagai penghormatan atas kalimatmu". Namun mereka semua berkata, "Tidak, dia adalah penyihir dan pembohong. Sihir yang menakjubkan mudah baginya. Tidak ada yang mempercayaimu dalam perkaramu ini kecuali orang seperti ini". (sambil menunjukku).

Sungguh aku termasuk orang-orang yang tidak mempedulikan ejekan orang yang mengejek dalam jalan Allah. Wajah mereka adalah wajah orang-orang benar dan ucapan mereka adalah ucapan orang-orang yang bijak. Mereka penghidup malam dan mercu suar si-ang. Mereka berpegang teguh pada tali al-Qur-an dan menghidupkan sunnah-sunnah Allah dan Rasul-Nya. Mereka tidak sombong dan tidak angkuh. Mereka tidak berbuat keja-hatan dan kerusakan. Hati mereka di surga sedang tubuh mereka sibuk beramal". (Nahj al-Balaghah, khutbah al-Qâsi’ah)


Sumber: AkalBudiIslam

Berahi Nabi Cabul Kepada Bayi

Ishaq:311

Nabi melihat Ummul ketika dia masih seorang bayi yang merangkak di kakinya dan berkata, Jika dia tumbuh dewasa, aku akan mengawininya.Tetapi dia mati sebelum bisa melakukannya.
Nabi tidak berdaya ketika libido sebesar 30 lelaki ini melihat anak2 kecil
.

Ibn Ishaq: Suhayli, 2.79: Dalam riwayat Yunus Ibn Ishaq dilaporkan bahwa nabi melihat bayi (Ummul-Fadl, ketika itu ia masih bayi dan bergeliat didepannya) dan mengatakan, Jika ia besar nanti dan saya masih hidup, saya akan menikahinya. (ref.10, p. 311)

Muhammad melihat Um Habiba, puteri Abbas, saat ia masih fatim (masih menetek) dan ia mengatakan, "Jika ia besar nanti dan saya masih hidup, saya akan menikahinya."(Musnad Ahmad, Number 25636)

Sumber: AkalBudiIslam

Doa Nabi Muhammad SAW Sebelum Beliau Wafat

Ya Allah! Ampunilah saya! Kasihanilah saya dan hubungkanlah saya dengan Teman Yang Maha Tinggi … 

(Hadis Shahih Bukhari 1573) Lalu beliau mengangkat tangannya sambil mengucapkan: "Teman Yang Maha Tinggi" Lalu beliau wafat dan rebahlah tangan beliau. (Hadits Shahih Bukhari 1574)
Siapakah "Teman Yang Maha Tinggi" itu?
Menurut catatan para Hadis Sahih Bukhari, ialah "Malaikat dan Nabi-nabi". Malaikat tidak disebut yang Maha Tinggi, jadi "teman" beliau bukan malaikat tetapi seorang nabi.  

Lalu siapakah diantara nabi yang layak disebut: "Yang Maha Tinggi"?
Nabi-nabi yang terkenal iaitu:"Adam Shafiyulah" = Adam AS disucikan Allah, "Nuh Najiyullah" = Nuh AS diselamatkan Allah, "Ibrahim Khalillulah" = Ibrahim AS dikasihi Allah, "Isma'il Dzabiihullah" = Ismail AS dikurbankan Allah, "Musa Kaliimullah" = Musa AS difirmankan Allah, "Dawud Kalifatullah" = Dawud AS dipimpin Allah, (Majmu' Syarif)
Namun beliau telah bersabda: "Anaa aulan naasi bi 'iisabni Maryam fid dun-yaa wal aakhiraati wal anbiyaau ikhwaatul li'allaatin ummahaatuhum syattaa wa diinuhum waahid."Saya yang lebih dekat Isa anak Maryam di dunia dan di akhirat. Semua nabi itu bersaudara kerana seketurunan. Ibunya berlainan sedang agamanya satu. (Hadis Shahih Bukhari 1501)

"…'lisabnu Maryam wajihan fid dun-yaa wal aakhirat…"
… Isa putra Maryam yang terkemuka di dunia dan di akhirat …
(Al Imran, 3:45)
"Wal Iadzii nafsii bi layusyikanna ayyanzila fil kumubnu Maryama hakaman muqsithan"
Demi Allah yang jiwaku di tanganNya, sesungguhnya telah dekat masanya 'Isa Anak Maryam akan turun di tengah-tengah kamu. Dia akan menjadi Hakim yang Adil …
(Hadis Shahih Muslim 127)
"Laa mahdiya illa isabnu Maryama"
Tidak ada Imam MAHDI selain Isa putra maryam
(Hadis Ibnu Majah)
… Isa itu Rohullah, Rasullah dan Kalimatullah.
(Anas bin Malik hal. 72, An Nisa, 4:171)

Kesimpulannya:
Maka "Teman Yang Maha Tinggi" itu adalah Isa Al Masih Anak Maryam.
"… wattabi'unni haadzaa shiraathum mustaqiim."
…ikutilah Aku, inilah jalan yang lurus.

(Az Zukruf, 43:61)

Sumber: AkalBudiIslam

Nabi Muhammad Adalah Orang Yang Paling Kafir Terhadap Allahnya

1. Muhammad membunuh kaum lelaki, membagikan kaum wanita, anak-anak kecil berikut harta benda mereka di antara kaum muslimin.
Shahih Muslim, -Imam Muslim- Kitab Jihad Dan Ekspedisi, Bab 16: Mengusir orang-orang Yahudi dari Hijaz .
Hadis riwayat Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhu : ia berkata:Bahwa kaum Yahudi Bani Nadhir dan Bani Quraidhah selalu memerangi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam , sehingga Rasulullah pun lalu mengusir Bani Nadhir dan membiarkan Bani Quraidhah sekaligus membebaskan mereka. Namun setelah itu Bani Quraidhah juga ikut memerangi, maka beliau pun lalu membunuh kaum lelaki mereka serta membagikan kaum wanita, anak-anak kecil berikut harta benda mereka di antara kaum muslimin Kecuali mereka yang meminta perlindungan kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam , maka beliau pun memberikan keamanan kepada mereka sehingga berimanlah mereka. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengusir orang-orang Yahudi Madinah seluruhnya, yaitu; Bani Qainuqa' (kaum Abdullah bin Salam), Yahudi Bani Haritsah dan setiap orang Yahudi yang berada di Madinah
Hadits marfu'
Nomor: 3312
Sumber: http://hadith.al-islam.com/Bayan/ind/


Ingat hadis ini ditulis oleh penyembah Muhammad. Mereka menulis untuk kebutuhan mereka. Apakah benar bahwa bahwa kaum Yahudi Bani Nadhir dan Bani Quraidhah selalu memerangi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam? Mengapa mereka selalu memerangi Muhammad, ada apa dengan dia? Muhammad seakan-akan hanya membela diri. Jika Muhammad membunuh, itu sekurang-kurang bawahannya dibunuh oleh musuhnya. Berapa banyak kawan Muhammad, berapa banyak muslim yang dibunuh oleh Bani Quraidhah? Hadis ini tidak memberikan informasinya. Nol besar. Jadi, sesungguhnya Muhamamd bertindak melampaui batas.

2. Seharusnya Muhammad mengingat apa yang dikatakan oleh Allahnya!!!

a. Al Israa' (17) 33 Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar. Dan barangsiapa dibunuh secara zalim, maka sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah orang yang mendapat pertolongan.

b. Al Mu'min (40) 34 Dan sesungguhnya telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan, tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu, hingga ketika dia meninggal, kamu berkata: "Allah tidak akan mengirim seorang (rasulpun) sesudahnya. Demikianlah Allah menyesatkan orang- orang yang melampaui batas dan ragu-ragu.

c. Al Maidah (5) 32 Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi.

3. Apakah Muhammad lupa dengan nasihatnya sendiri???
Bulughul Maram, -Ibnu Hajar Al-Ashqolani- Kitab Pidana
Dari Ibnu Umar Radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya orang yang paling durhaka kepada Allah ada tiga: Orang yang membunuh di tanah haram, orang yang membunuh orang yang tidak membunuh, dan orang yang membunuh karena balas dendam jahiliyyah."
Hadits shahih riwayat Ibnu Hibban.
Nomor: 1205
Sumber: http://assunnah.mine.nu

Shahih Muslim -Imam Muslim- Kitab Iman Bab 33: Larangan membunuh orang kafir yang telah mengucapkan: Laa ilaaha illallah
Hadis riwayat Usamah bin Zaid Radhiyallahu 'anhu , ia berkata:Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengirim kami dalam suatu pasukan. Kami sampai di Huruqat, suatu tempat di daerah Juhainah di pagi hari. Lalu aku menjumpai seorang kafir. Dia mengucapkan: Laa ilaaha illallah, tetapi aku tetap menikamnya. Ternyata kejadian itu membekas dalam jiwaku, maka aku menuturkannya kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya: Apakah ia mengucapkan: Laa ilaaha illallah dan engkau tetap membunuhnya? Aku menjawab: Wahai Rasulullah, ia mengucapkan itu hanya karena takut pedang. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: Apakah engkau sudah membelah dadanya sehingga engkau tahu apakah hatinya berucap demikian atau tidak? Beliau terus mengulangi perkataan itu kepadaku, hingga aku berkhayal kalau saja aku baru masuk Islam pada hari itu. Saad berkata: Demi Allah, aku tidak membunuh seorang muslim, hingga dibunuh Dzul Buthain, Usamah. Seseorang berkata: Bukankah Allah telah berfirman: Dan perangilah mereka, agar tidak ada fitnah dan agar agama itu semata-mata untuk Allah. Saad berkata: Kami telah berperang, agar tidak ada fitnah. Sedangkan engkau dan pengikut-pengikutmu ingin berperang, agar timbul fitnah
Hadits marfu', mutawatir
Nomor: 140
Sumber: http://hadith.al-islam.com/Bayan/ind/

4. Saran Allah kepada semua umat manusia!!!!
Asy Syu'araa (26) 151 dan janganlah kamu mentaati perintah orang-orang yang melewati batas,

5. Apa hukumannya bagi manusia yang melampaui batas?

Pertama, Allah tidak suka
* Al Baqarah (2) 190 Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
* Al Maidah (5) 87 Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.
Al A'raf (7)55 Berdo'alah kepada Tuhanmu dengan berendah diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas

Kedua, Dimasukan ke neraka

Thaahaa (20) 127 Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal.

Ketiga, Dilaknati oleh Allah

Al Maidah (5) 78 Telah dila'nati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan 'Isa putera Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas.

Keempat, Ditimpa murka Allah

Thaahaa (20) 81 Makanlah di antara rezki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia.

Kelima, Dibinasakan oleh Allah

Al Anbiyaa' (21) 9 Kemudian Kami tepati janji (yang telah Kami janjikan) kepada mereka. Maka Kami selamatkan mereka dan orang-orang yang Kami kehendaki dan Kami binasakan orang-orang yang melampaui batas.

Keenam, Di azab oleh Allah

Asy Syuura (42) 42 Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.

Ketujuh, Menjadi penghuni neraka

Al Mu'min (40) 43 Sudah pasti bahwa apa yang kamu seru supaya aku (beriman) kepadanya tidak dapat memperkenankan seruan apapun baik di dunia maupun di akhirat . Dan sesungguhnya kita kembali kepada Allah dan sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka itulah penghuni neraka.

Kedelapan, Memandang baik apa yang dikerjakannya [kejahatannya]

Yunus (10) 12 Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo'a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo'a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan.

6. Hadis2 berikut ini menceriterakan kepada kita semua motif Muhammad dan pengikutnya berperang:

Pertama, Harta Benda agar bisa membeli kebun setelah memeluk Islam [baca ikut berperang]

Shahih Muslim -Imam Muslim- Kitab Jihad Dan Ekspedisi Bab 11: Prajurit yang membunuh berhak memperoleh rampasan musuh yang dibunuhnya.
Hadis riwayat Abu Qatadah Radhiyallahu 'anhu , ia berkata:Kami berangkat bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam perang Hunain. Lalu pasukan Muslimin mengalami kekalahan dalam putaran pertama. Aku melihat seorang lelaki musyrik hampir berhasil membunuh seorang prajurit Islam, maka aku segera membalik diri dan mendekatinya dari arah belakang lalu dengan cepat memenggal urat tengkuknya. Orang itu lalu mendekati dan memelukku sehingga aku dapat mencium bau kematian lalu matilah ia dan aku pun terlepas dari pelukannya. Setelah itu aku segera menyusul Umar bin Khathab, ia bertanya: Apakah yang terjadi dengan orang-orang itu? Aku menjawab: Itu urusan Allah. Tidak lama kemudian semua pasukan telah kembali dan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah mengambil tempat duduk, lalu beliau bersabda: Barang siapa yang berhasil membunuh seorang prajurit musuh dan mempunyai bukti, maka ia berhak memperoleh peralatan perang yang dipakai orang itu. Lalu aku segera berdiri dan berkata: Siapa yang bersedia memberikan kesaksian bagiku? Setelah itu aku pun duduk, lalu bangkit lagi dan bertanya: Siapakah yang bersedia bersaksi untukku? Kemudian aku duduk lagi dan mengulangi pertanyaan untuk ketiga kalinya dan berdiri. Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya: Ada apa denganmu, wahai Abu Qatadah? Aku lalu menceritakan kepada beliau peristiwa tadi. Kemudian seorang lelaki dari mereka berkata: Ia benar, wahai Rasulullah! Dan peralatan perang prajurit musuh yang terbunuh itu ada padaku, maka berikanlah dia gantinya sesuai dengan haknya! Abu Bakar Shiddiq lalu berkata: Tidak, demi Allah! Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam tidak akan menyia-nyiakan usaha seorang prajurit Allah yang telah berjuang membela Allah dan Rasul-Nya, lalu beliau memberikan kepadamu harta rampasannya! Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian bersabda: Abu Bakar benar, maka berikanlah harta itu kepadanya! Lalu orang itu pun menyerahkannya kepadaku. Qatadah berkata: Aku kemudian menjual baju besi itu (hasil rampasan) untuk membeli sebidang kebun buah-buahan di daerah Bani Salamah. Itulah harta yang pertama kali aku miliki selama aku (memeluk) Islam
Hadits marfu'
Nomor: 3295
Sumber: http://hadith.al-islam.com/Bayan/ind/

Kedua, Berhak atas semua [harta] rampasan orang itu [orang yang dibunuh]

Shahih Muslim -Imam Muslim- Kitab Jihad Dan Ekspedisi, Bab 11: Prajurit yang membunuh berhak memperoleh rampasan musuh yang dibunuhnya
Hadis riwayat Salamah bin Akwa' Radhiyallahu 'anhu : ia berkata:Kami berperang bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melawan suku Hawazin. Ketika kami sedang menikmati makan siang bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam , tiba-tiba datanglah seorang lelaki menunggangi seekor unta merah. Ia pun segera menderumkan untanya, kemudian mencabut tali kulit dari kantongnya untuk menambat unta. Setelah itu ia maju ikut menikmati makan siang bersama orang-orang yang lain. Mulailah lelaki itu melepaskan pandangan, padahal saat itu di antara kami ada yang merasa lelah dan lemas sehabis menunggang dan ada sebagian lain yang berjalan kaki. Tiba-tiba saja lelaki itu keluar berlari ke arah untanya, lalu melepaskan ikatannya kemudian menderumkan dan ia pun duduk di atasnya. Setelah membangkitkan lagi, larilah unta itu dengan cepat membawanya, lalu seorang lelaki lain mengikuti dari belakang dengan menunggang unta abu-abu. Salamah berkata: Aku pun bergegas keluar mengejar sampai berhasil mencapai bagian belakang unta, dan terus maju dan berhasil mengejarnya. Aku menghadangnya dan berhasil menarik tali kekang unta lalu segera menderumkan. Ketika lutut orang tak dikenal itu menyentuh tanah, aku bergegas mencabut pedang dan memenggal kepala orang itu hingga jatuhlah dia. Lalu aku membawa unta itu sambil menaikinya sedangkan bekal dan senjata orang tadi masih di atas. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersama yang lain lalu menyambutku dan bertanya: Siapakah yang membunuh lelaki tak dikenal tadi? Mereka menjawab: Ibnu Akwa'. Beliau bersabda lagi: Maka dialah yang berhak atas semua rampasan orang itu
Hadits marfu'
Nomor: 3298
Sumber: http://hadith.al-islam.com/Bayan/ind/
Salam


Sumber: AkalBudiIslam

Muhammad: "Akulah Gembala Yang Diutus"; Yesus: "Akulah Gembala Yang Baik"

Salah satu buku yang sangat terkenal tentang Islam adalah Sejarah Hidup Muhammad karangan MH. Haekal. Di situ digambarkan mimpi dan firasat Muhammad bahwa ia bakal menjadi seorang Nabi. Dikatakan: "Yang menyebabkan dia (Muhammad) lebih banyak merenung dan berfikir, ialah pekerjaannya menggembalakan kambing sejak dalam masa mudanya itu." Dia menggembalakan kambing keluarganya dan kambing penduduk Mekah. Dengan rasa gembira ia menyebutkan saat-saat yang dialaminya pada waktu menggembala itu. Di antaranya ia berkata:

"Nabi-nabi yang diutus Allah itu gembala kambing." Dan katanya lagi: "Musa diutus, dia gembala kambing, Daud diutus, dia gembala kambing. Aku diutus, juga gembala kambing keluargaku di Ajyad." (p.60)

Kita tidak tahu apa yang diketahui oleh Muhammad mengenai makna "gembala" dalam era dan kisah Taurat dan Mazmur (Zabur). Kita juga tidak tahu apakah beliau tahu bahwa Alkitab membedakan domba dan kambing, sehingga gembala bagi keduanya juga tidak betul-betul persis sama, khususnya dalam bobot proteksi dan care bagi domba yang lebih pasrah tak berdaya ketimbang kambing. Kita cuma bisa menduga-duga bahwa Muhammad itu gembala upahan dari keluarga, dan bukan gembala kambing milik sendiri atau dari orang tuanya. Status itu juga dibedakan oleh Alkitab.

Seorang gembala jaman dahulu - jamannya nabi-nabi Israel - tidak bisa dibandingkan dengan gembala yang dikenal jaman sekarang. Dari seorang gembala dituntut tanggung-jawab yang amat besar, sedemikian sehingga fungsi gembala disamakan oleh masyarakat kuno sebagai tugas kepala bani dalam menuntun dan memerintah kaumnya.



Gembala itu harus mengenal setiap mata-air, sumur, wadi dan sungai.

Dia harus tahu sifat airnya yang tenang untuk bisa diminum secara aman, bukan air deras dimana hewan tersebut mudah hanyut kalau terpeleset atau jatuh. Gembala bahkan juga siap mencari sungai atau menimba air sumur lain bagi dombanya di musim kemarau. Ia memperhitungkan dimana masih terdapat rumput, menurut musimnya. Ia harus melindungi anak-anak domba yang belum dapat berjalan jauh. Ia memelihara induk-induk domba yang bunting atau yang sedang dalam masa menyusui.

Ia menolong domba yang sakit, terluka pada batu-batu tajam dan duri, bahkan sakit apapun yang menerpa dombanya. Ia menghindari agar jangan seekor dombapun meninggalkan kawanan, baik diperjalanan ataupun karena takut dengan kilat dan guntur.

Gembala akan membela kawanan terhadap binatang buas dan pencuri. Dengan tongkat yang panjang, gembala menuntun kawanan domba, memberi tanda maju, berbelok, atau berhenti. Ia menunjuk jalan dan sekaligus memperingati domba yang mau menjauhkan diri. Domba adalah aset miliknya yang sangat khusus. Dianggap sangat bernilai bukan karena harganya (secara materi), tetapi karena natur gembala yang memang selalu bertanggung jawab terhadap setiap dombanya secara sangat pribadi. Itu sebabnya seorang gembala membelanya sampai dengan mempertaruhkan nyawanya sendiri.

Dalam pengibaratan seperti itulah Yesus melukiskan dirinya sebagai Gembala yang Baik bagi manusia yang digambarkan sebagai domba-dombanya. Dan itu dibuktikannya dalam seluruh perjalanan kenabiannya. Ia bukan gembala upahan. Disinilah kita melihat bahwa ia adalah gembala yang berlainan dengan Muhammad-gembala. Muhammad memimpikan dirinya jadi nabi dengan mencoba mencocok-cocokkan status gembalanya seperti Musa dan Daud. Sesungguhnya pencocokan ini hanyalah pelipur lara saja bagi anak muda yang memimpikan masa depannya, karena ada jutaan orang-orang dahulu di Timur Tengah yang memang kerjanya sebagai gembala, dan yang selalu akan cocok bila dikait-kaitkan secara umum.

Tetapi Yesus berkata secara khusus, "Akulah gembala yang baik" dan Dia tidak melihat domba-domba nya sebagai satu kawanan belaka, melainkan justru mengenalnya satu per satu secara pribadi dengan sebutan namanya masing-masing,

"Domba-domba mendengarkan suaranya (gembalanya) dan ia memanggil domba-domba nya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya keluar. Jika semua dombanya telah dibawanya keluar, ia berjalan didepan mereka dan domba-domba itu mengikuti dia, karena mereka mengenal suaranya" (Yohanes 10:3-4).



Kenapa harus sedemikian pribadinya?

Itulah, karena natur dari seorang gembala yang baik adalah tidak rela dan tidak mengizinkan satu manapun dari dombanya hilang atau tersesat. Dan Tuhan sesungguhnya jauh lebih bernatur mulia ketimbang itu. Dia tidak seperti Allah SWT yang sampai hati menyesatkan seberapapun jiwa berharga dengan slogan: "Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki" (Sura 14:4). Sebaliknya, Yesus berkata untuk satu per satu jiwa:

"Siapakah diantara kamu yang mempunyai 100 ekor domba, dan jikalau ia kehilangan seekor diantaranya, tidak meninggalkan yang 99 ekor dipadang gurun dan pergi mencari yang sesat itu sampai ia menemukannya?" (Lukas 5:4). Sambil mengingatkan kita:

"Bukankah manusia jauh lebih berharga dari pada domba" (Matius 12:12).

Lebih jauh, Gembala yang Baik dikontraskan Yesus dengan gembala upahan yang bagaimanapun tidak akan mempunyai sense of belonging:

"Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya”, sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu. Ia lari karena ia seorang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu" (Yohanes 10:11-13).

Gembala yang baik bukan hanya bertugas untuk menyelesaikan satu hari kerja, tetapi ia bertarung dan siap berkurban nyawa bagi domba-dombanya. Dan pernyataan berkurban-nyawa ini diulangi Yesus sampai empat kali dalam satu pasal yang sama (yaitu ayat 11, 15, 17, 18), dan beberapa waktu kemudian dia membuktikannya pula secara mutawatir. Ini adalah pernyataan tentang kurban-diriNya bagi penebusan dosa manusia, tetapi yang dinafikan oleh satu-satunya ayat (tanpa bukti) dari Muhammad yang membantah kematiannya di atas kayu salib! (Sura 4:157).

Di tempat yang lain dalam Injil, Yesus terus-menerus mengindikasikan kematian-kurbannya demi membuktikan kebenaran akan kematiannnya, sekaligus maha-kasihnya bagi domba-dombanya, "Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya" (Yohanes 15:13). Dan kembali Muhammad tidak memberi bukti bagaimana Allah itu Mahakasih, tetapi tetap nekad berkata sebanyak 114 kali bahwa "Allah Maha-kasih dan Maha-penyayang".

Akhirnya, Yesus masih menyampaikan satu kepedulian yang sama untuk menggembalakan satu kawanan domba lain yang tadinya tidak termasuk dalam kandang yang sama. Itu adalah domba-domba yang menolak diri Yesus sebagai ANAK DOMBA ALLAH yang menghapus dosa manusia (Yohanes 1:29). Mereka berseru mengikuti gembala upahannya: "Tiada Tuhan selain Allah". Mereka digembalai orang upahan yang mengaku diutus oleh Tuhan, tetapi yang tidak menghimpunkan domba-dombanya kembali kehadapan Tuhan yang mengutusnya, melainkan mencerai beraikan semuanya dalam kepastian masuk ke neraka: "Dan tidak ada seorangpun dari padamu, melainkan mendatangi neraka itu. Hal itu bagi Tuhanmu adalah suatu kemestian yang sudah ditetapkan." (Sura 19:71).


MARILAH KITA BERKATA FROM HEART TO HEART.

Bila Yesus berkata: "Akulah gembala yang baik", maka apakah kita bisa mengimbanginya dengan berkata balik: "Tuhan, aku mau menjadi domba yang baik, taat, dan mengikuti jalan yang kau buka dengan tongkat gembalaMu". Dalam hiruk-pikuk suara-suara sumbang lainnya dari dunia, aku kini mendengar dan mengenal suara penggembalaanMu yang benar:

"Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (Matius 11:28).


Sumber : AkalBudiIslamKembali Ke Atas

Bersetubuh Di Luar Nikah Haram Di Dunia, Tetapi Halal Di Sorga

Mengapa Ada Beberapa Hal Yang Diharamkan Di Dunia Tetapi Dihalalkan Di Surga?
Prince of JihadAhad, 1 Februari 2009 20:58:41Hits: 4414
Pertanyaan:

Saya seorang muslimah yang hidup di Swedia. Saya ada pertanyaan dari seorang Nashara, saya sudah banyak bertanya dan berusaha mendapatkan jawaban di dalam beberapa buku tetapi tidak saya dapatkan. Pertanyaannya tentang bidadari. Saya dengar, seorang laki-laki akan diberi balasan dengan beberapa wanita di surga. Saya tidak tahu apakah informasi ini benar ? Akan tetapi bila Anda bisa memberikan penjelasan tentang masalah ini saya sangat berterima kasih.

Pertanyaan penting tersebut adalah: Mengapa Islam sering memberi motivasi dan memberi kabar gembira dengan sesuatu di surga padahal hal itu diharamkan di dunia ? Seperti hubungan antara laki-laki dengan wanita diluar nikah yang dianggap haram. Dan apabila seorang muslim menjauhi hal itu di dunia, maka dia akan dibalas dengan diberikan bidadari di surga. Bukahkah ini hal yang aneh ? Sayang sekali pengetahuan saya hanya sedikit tentang hal ini dan saya tidak tahu dari mana datangnya pertanyaan ini tetapi saya yakin akan ada jawaban yang logis terhadap pertanyaan ini dan saya berharap Anda membantu saya dalam hal ini. Terima kasih.

Jawaban:

Allah telah menjelaskan tentang surga di dalam kitab-Nya yang mulia dan apa-apa yang dijanjikan di dalamnya. Diapun telah menerangkan tentang keadaan surga dan para penghuninya di beberapa ayat dalam Al-Qur’an. Di antaranya:

“Di dalamnya ada mata air yang mengalir. Di dalamnya ada tahta-tahta yang ditinggikan. Dan gelas-gelas yang diletakkan. Dan bantal-bantal sandaran yang disusun. Dan permadani-permadani yang dihamparkan.” (Q.S. Al-Ghasyiyah: 12-16)

“Dan bagi orang yang takut ketika bertemu dengan Rabbnya ada dua surga. Maka nikmat Allah yang mana lagi yang akan kalian dustakan. Kedua surga itu mempunyai pohon-pohon dan buah-buahan. Maka nikmat Allah yang manalagikah yang akan kalian dustakan. Di dalam kedua surga itu ada dua mata air yang mengalir. Maka nikmat Allah yang manalagikah yang akan kalian dustakan ? Di dalam kedua surga itu ada segala macam buah-buahan yang berpasang-pasangan.” (Q.S. Ar-Rahman: 46-52)

Ayat-ayat yang lainnya yang menerangkan keadaan surga sangat banyak. Ada beberapa ayat yang menerangkan wanita-wanita surga. Di antaranya :

“Di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang menundukkan pandangannya, yang tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka ataupun oleh jin. Maka nikmat Allah yang manalagikah yang akan kalian dustakan ? Seakan-akan mereka itu permata yakut dan marjan.” (Q.S. Ar- Rahman: 56-58)

“Bidadari-bidadari yang cantik, putih bersih, dan terpelihara dalam kemah.” (Q.S. Ar- Rahman: 72)

“Dan di dalam surga itu ada bidadari-bidadari yang bermata jeli. Seperti mutiara yang tersimpan baik. Sebagai balasan dari apa yang mereka lakukan.” (QS.Ar-Rahman: 22-24)

Selain itu ada pula hadits-hadits dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam tentang keadaan wanita-wanita surga dan bahwa mereka disediakan pada hari kiamat untuk orang-orang yang bertaqwa. Di antaranya adalah hadits Abu Hurairoh Radhiyallahu ‘Anhu dia berkata : “Telah berkata Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:

“Sesungguhnya rombongan pertama yang masuk surga tak ubahnya seperti bulan pada malam purnama, kemudian orang-orang setelah mereka laksana bintang yang paling terang cahayanya di langit. Mereka tidak kencing, tidak buang hajat, tidak meludah, dan tidak beringus. Sisir-sisir mereka dari emas dan aroma mereka seperti minyak kasturi. Isteri-isteri mereka adalah bidadari. Bentuk mereka sama seperti bentuk bapak-bapak mereka yaitu Adam yang tingginya 60 (enam puluh hasta).” (Shahih Al Jami’ 2015)

Dari Rasul Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, beliau berkata:

“Kemah (di surga) adalah mutiara yang tingginya 60 mil. Di setiap sudutnya ada isteri bagi seorang mukmin dan mereka tidak bisa dilihat oleh orang lain.” (Shahih Al Jami’3357)

Hadits-hadits tersebut menerangkan tentang wanita-wanita surga yang disediakan untuk para laki-laki. Dan Allah telah menamai mereka di dalam kitab-Nya dengan sebutan Al-huur (bidadari). Al-Huur jamaknya adalah Hauraa. Imam Al Qurthubi berkata di dalam kitab Al-Ahkam (17/122): “Mereka (bidadari) itu bagian putih matanya sangat putih dan bagian hitamnya sangat hitam, maka kita mengimani hal itu dengan keimanan yang mutlak yang tidak ditembus oleh keraguan ataupun kesangsian dan hal ini tertancap di inti aqidah kita.”

Untuk keterangan yang lebih jelas silakan merujuk kepada Shahih Bukhari, kitab bad’ul khalqi, bab sifat al jannah, dan Shahih Muslim, bab sifat al jannah, demikian pula kitab Sifat Al-Jannah susunan Abu Nu’aim Al Ashfahani tentang sifat wanita ahli surga dan kecantikannya.

Adapun pertanyaan bahwa Islam memotivasi dan memberi kabar gembira dengan sesuatu di surga padahal hal itu diharamkan di dunia seperti hubungan antara laki-laki dengan wanita di luar nikah, maka sebelum dijawab ada baiknya kita memperhatikan hal yang penting, yaitu bahwa Allah Ta’ala mengharamkan sesuatu sekehendak-Nya di dunia ini kepada para penghuninya. Dia adalah mencipta dan Pemilik segela sesuatu, maka tidak boleh bagi seorangpun memprotes terhadap hukum Allah Ta’ala dengan ra’yu (pikiran) dan pemahamannya yang terbalik, maka kepunyaan Allahlah hukum dan urusan sebelum dan sesudahnya.

Adapun masalah pengharaman Allah Ta’ala terhadap beberapa perkara di dunia kemudian Dia memberi balasan dengan hal itu pula bagi orang yang meninggalkan hal itu di akhirat, seperti khamr, zina, memakai sutera bagi laki-laki, dan seterusnya, maka hal ini merupakan kehendak Allah dalam memberi balasan kepada orang yang mentaatinya, bersabar, dan memerangi hawa nafsu dirinya di dunia.

Allah Ta’ala berfirman :

“Tidak ada balasan bagi kebaikan kecuali kebaikan pula..” (Q.S. Ar Rahman : 60)

Adapun tentang sebab-sebab pengharaman, maka berikut ini ada beberapa point penting :

Pertama : Tidaklah penting bagi kita mengetahui semua sebab pengharaman. Karena ada beberapa sebab yang kadang-kadang tidak kita ketahui. Dan yang pokok adalah berpegang kepada nash-nash tersebut secara tunduk sekalipun kita tidak tahu sebabnya karena sikap tunduk merupakan tuntutan Islam yang dibangun di atas ketaatan yang sempurna karena Allah Ta’ala .

Kedua : Kadang-kadang nampak bagi kita beberapa sebab pengharaman ,seperti kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan akibat zina berupa tidak jelasnya keturunan, tersebarnya penyakit kelamin, dan yang lainnya. Maka ketika syariat melarang hubungan yang tidak disyariatkan, maka itu maksudnya untuk memelihara kejelasan keturunan dan menghindarkan penyakit, dan hal-hal yang kadang-kadang tidak dimengerti sedikitpun oleh orang-orang kafir dan durhaka sehingga mereka melakukan hubungan seksual seperti keledai. Seorang lelaki menyetubuhi kawan wanitanya, atau seseorang bersetubuh dengan kerabatnya, demikianlah seterusnya seolah-olah mereka itu kelompok binatang, bahkan sebagian binatangpun enggan melakukan hal itu, sedangkan mereka tidak enggan dan tidak peduli akan hal itu, maka jadilah masyarakat yang melakukan hal itu menjadi kumpulan orang yang bebas terlepas dari ikatan, yang penuh dengan penyakit kelamin sebagai wujud murka Allah bagi orang-orang yang melanggar hal yang diharamkannya dan membolehkan apa yang dilarangnya..

Hal ini berbeda sekali dengan hubungan antara seorang laki-laki dengan bidadari di surga -dan inilah yang Anda tanyakan-. Maka hal yang harus diperhatikan adalah bahwa seorang wanita pelacur di dunia adalah seorang wanita yang hilang harga dirinya, sedikit iman dan rasa malunya dan tidak terikat dengan hubungan syar’i yang tetap dengan seseorang yang dilandasi akad yang benar, maka jadilah seorang laki-laki menyetubuhi wanita yang diinginkannya, dan seorang wanita bersetubuh dengan lelaki yang dikehendakinya tanpa aturan agama ataupun akhlaq. Adapun bidadari di surga maka mereka terkhususkan untuk suami-suami mereka orang-orang yang diberi balasan oleh Allah dengan diberi bidadari-bidadari itu karena kesabaran mereka dalam menahan diri dari yang haram ketika di dunia, sebagaimana firman Allah Ta’ala :

“Bidadari-bidadari yang terpelihara di dalam kemah-kemah.”

Dan firman-Nya pada ayat lain tentang bidadari-bidadari itu:

“Mereka tidak pernah disentuh oleh seorang manusiapun sebelum mereka ataupun oleh jin.”

Dan mereka adalah isteri bagi penghuni surga, sebagaimana firman Allah :

“Dan Kami nikahkan mereka dengan bidadari-bidadari.”

Dan mereka terkhususkan hanya untuk suami mereka dan tidak untuk yang lainnya.

Ketiga : Sesungguhnya Allah Ta’ala yang mensyariatkan bagi laki-laki di dunia agar tidak mempunyai lebih dari empat isteri dalam satu waktu, Dia pulalah yang memberi nikmat kepada penghuni surga dengan bidadari yang diinginkannya, maka tidak ada pertentangan antara pengharaman di dunia dengan penghalalan di akhirat karena hukum kedua tempat itu berbeda sesuai dengan yang dikehendaki Allah Ta’ala, dan tidaklah diragukan lagi bahwa akhirat lebih baik, lebih utama, dan lebih kekal dari pada dunia. Allah Ta’ala berfirman:

“Telah dihiasi bagi manusia kecintaan kepada syahwat wanita, anak-anak, harta yang banyak berupa emas dan perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allah ada tempat kembali yang baik. Katakanlah: ‘Maukah aku kabarkan kepada kalian apa yang lebih baik dari hal itu ? Untuk orang-orang yang bertaqwa kepada Rabb mereka yaitu surga yang banyak mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selamanya .Dan ada isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat terhadap hamba-hamba-Nya.” (Q.S. Ali Imran: 14-15).

Keempat : Sesungguhnya pengharaman ini kadang-kadang merupakan ujian dari Allah Ta’ala bagi hamba-hamba-Nya, apakah mereka melaksanakan perintah dan menjauhi larangan atau tidak. Dan ujian tidaklah berupa sesuatu yang tidak diinginkan dan tidak disukai jiwa, tetapi ujian akan berupa sesuatu yang diinginkan oleh jiwa sehingga jiwa akan selalu terkait dan tertarik kepadanya. Di antaranya adalah ujian dengan harta, apakah seorang hamba akan mengambil yang halal dan menggunakannya dengan cara yang halal pula serta menunaikan hak Allah di dalamnya ? Ujian dengan wanita, apakah dia akan membatasi dengan hal yang dihalalkan oleh Allah, menundukkan pandangan, dan menjauhi hal yang Allah haramkan dari wanita ? Dan di antara rahmat Allah Ta’ala bahwa Dia tidaklah mengharamkan sesuatu yang diinginkan oleh jiwa kecuali Diapun menghalalkan hal-hal yang halal yang sejenis dengan yang diharamkan tadi.

Kelima : Sesungguhnya hukum-hukum yang berlaku di dunia tidaklah seperti hukum di akhirat. Khamr di dunia bisa menyebabkan hilang akal berbeda dengan khamr di akhirat yang baik yang tidak menyebabkan hilang akal dan tidak menimbulkan pening di kepala serta tidak membuat kembung di perut. Demikian pula wanita-wanita yang disediakan pada hari kiamat untuk orang mukmin sebagai balasan atas ketaatan mereka, tidaklah seperti pezina yang membuat terkoyaknya kehormatan, tidak jelasnya keturunan serta menyebarnya penyakit kelamin yang berakhir dengan penyesalan. Wanita-wanita surga adalah wanita-wanita yang suci, baik, tidak akan mati, dan tidak akan tua. Berbeda dengan wanita-wanita di dunia.

Allah berfirman :

“Sesungguhnya Kami menciptakan mereka (bidadari-bidadari) dengan langsung. Dan Kami jadikan mereka gadis-gadis yang perawan penuh cinta kasih dan sepadan.” (Q.S. Al Waqi’ah: 35-37).

Kita memohon kepada Allah semoga Dia merizkikan kepada kita kebaikan di dunia dan di akhirat dan merizkikan ketaatan kepada kita dalam melaksanakan perintah-Nya dan yakin terhadap pahala-Nya serta meraih pahala-Nya juga aman dari siksa-Nya. Wallahu A’lam.

Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid


Sumber: AkalBudiIslam

Kompensasi Kasih Ibu: Muhammad Menikahi Nenek Uzur


Seorang anak yang dimasa kecilnya kekurangan kasih ibu akan cenderung suka dengan perempuan yang lebih dewasa, atau lebih tua. Artikel berikut mengandung pesan bahwa tindakan Muhammad yang mengawini perempuan tua bangka membuktikan masa kecilnya yang kurang bahagia. Muhammad kehilangan kasih sayang ibunya.


PERTANYAAN DR ALIREZA ASSAR:

Yth Dr. Sina,
Ok, Dr. Sina, anggaplah pendiri Islam, Muhammad itu memang seorang penipu, bandit, om girang … dsb. Tapi saya tetapi bisa membuktikan pada anda bahwa ia adalah pribadi yang paling hebat dalam sejarah umat manusia. Saya akan membahas ini secara bertahap. Pertama-tama, ia pasti pandai dan ganteng sehingga bisa mencantol wanita yang paling kaya dan berpengaruh pada jaman itu. Khadijah, jatuh cinta padanya, menikahinya dan memberikan semua kekayaannya kpd Muhamad untuk mengembangkan ideologinya. Setelah meninggalnya Khadijah, banyak wanita cantik mencoba menarik perhatiannya tetapi tidak berhasil. Aisyah adalah salah satu yg berhasil. Nah, jelaslah bahwa Muhamad memang sukses dgn wanita, kualitas yg jarang dimiliki kebanyakan lelaki intelek ! OK. Langkah kedua: anggaplah ia penipu. Tetapi pastilah ia penipu yg sangat jitu bukan ? Kebanyakan orang membohong tetapi tidak ada yg percaya. Apakah tidak aneh bahwa seorang lelaki di bagian terpencil dunia berhasil menipu orang selama 1400 tahun dan 1.5 milyar masih mempercayai tipuannya itu ? Bahkan di jaman sekarangpun, banyak politisi mencoba membohongi rakyat tapi tidak berhasil. Nah, lagi2 anda lihat bahwa Muhamad memang luar biasa.
Salam,
Dr. A.R. Assar


JAWABAN A SINA
Yth Dr. Assar.

1) Muhamad orang hebat ?

Anda mengatakan Muhamad adalah penipu, bandit dan om girang dsb, tetapi anda TETAP menganggapnya sbg “pribadi yg paling hebat dlm sejarah umat manusia.” Ini sangat kontradiktif. Bgm seorang penipu, bandit dan om girang bisa menjadi pribadi yg paling hebat dlm sejarah umat manusia ? Apa yg anda maksudkan dgn pribadi hebat ? Apakah Hitler juga pribadi hebat ? Bgm dgn Genghis Khan, Napoleon, Stalin, Mao Ze Dong, Khomeini dan Saddam Hussein ? Bukankah mereka juga pribadi-pribadi hebat ? Ingat bahwa orang2 biadab itu juga mengalami kemenangan di medan perang dan dicintai berjuta2 orang. Semua tokoh di atas itu berhasil menciptakan kultus-individu atas diri mereka sendiri dan rakyat tidak henti-hentinya mengelu-elukan mereka. Definisi anda bagi “manusia hebat” memang sangat rancu. Saya TIDAK menganggap orang yg membunuh orang lain sbg orang hebat.

Mari kita menganalisa surat anda point by point.

2) Perkawinan Khadijah-Muhamad

Argumen anda adalah bahwa Khadijah, wanita kaya dan berpengaruh jatuh cinta pada Muhamad dan menghabiskan kekayaannya bagi kemajuan agama karangan Muhamad. Buku kedua saya adalah sebuah biografi Muhamad dan kesehatan psikologisnya. Dlm buku ini saya menganalisa secara mendetil hubungan Muhamad dgn Khadijah. Ini cuplikan dari buku saya itu: Khadijah adalah puteri favorit ayahnya, Khuwaylid. Malah Khuwaylid sering lebih tergantung kpdnya, ketimbang kpd putera2nya. Khadijah memang “kesayangan papi”. Ia menolak lamaran lelaki2 berkuasa di Mekah. Tetapi ketika ia melihat Muhamad, ia langsung jatuh cinta dan mengirim orang utk menyampaikan surat lamarannya.
Sekilas memang nampak bahwa kepribadian Muhamad begitu magnetik sampai menaklukkan hati seorang wanita canggih. TAPI bacalah lagi biografinya.

Tabari menulis: “Khadijah mengirimkan pesan kpd Muhamad, mengundangnya utk melamarnya. Ia memanggil ayahnya kerumahnya, memabukkannya dgn anggur, melumurinya dgn parfum dan mendandaninya dgn mantel mahal dan memotong kerbau. Lalu Khadijah memanggil Muhamad dan paman2nya. Ketika mereka masuk, ayahnya langsung mengawinkan mereka. Ketika sang ayah sadar ia mengatakan, “Untuk apa daging, parfum dan baju ini ?” Khadijah menjawab, “Kau telah menikahi saya kpd Muhamad bin Abdullah”. “Saya tidak melakukannya,” kata sang ayah. “Mengapa saya akan melakukannya jika lamaran para lelaki paling berkuasa di Mekah-pun tidak saya setujui, apalagi memberikanmu kpd lelaki picisan ini ?” [Tabari versi Persia Vol. 3 hal.832]

Kelompok Muhamad keberatan dan menjawab bahwa perkawinan ini disiasati oleh puterinya sendiri. Orang tua itu dgn marah menarik pedangnya; saudara2 Muhamad juga menarik pedang mereka. Khadijah menengahi dan menyatakan cintanya pada Muhamad dan mengakui bahwa ia memang merencanakan semuanya ini. Ayahnya kemudian berdiam tatkala sadar bahwa ini semua diluar tangannya dan rekonsiliasipun terjadi.

Jadi bagaimana menjelaskan kelakuan Khadijah yg jatuh cinta pada lelaki yg 15 tahun lebih muda darinya? Kelakuan serabutan ini menunjukkan ketidakberesan dalam kepribadian Khadijah. Apakah ia benar2 jatuh cinta dalam hanya satu jam pertemuan? Atau hanya suka/naksir (infatuation)?

Penulis dan kolumnis Ann Landers (1918-2002) menjelaskan perbedaannya: “Infatuation is instant desire. Perasaan suka hanyalah bentuk nafsu menggebu-gebu. Cinta adalah persahabatan yg baru menghangat setelah beberapa lama. Cinta mengakar dan tumbuh, pelan2 setiap hari. Infatuation ditandai oleh ketidakpastian (insecurity). Orang yg sedang kepincut rasa suka akan mengatakan, ‘Kita harus menikah sekarang juga ! Saya tidak mau kehilangan kau !’ Ini memang memiliki elemen nafsu seksual".

Bukti menunjukkan bahwa ayah Khadijah seorang pemabuk. Utk melancarkan perkawinannya, Khadijah memanfaatkan kelemahan ayahnya. Hanya seorang pemabuk dapat kehilangan kesadaran. Anak2 orang2 pemabuk sering memiliki keadaan psikologis yg dinamakan codependency. Nampak juga bahwa ayah Khadijah terlalu protektif terhdp puteri kesayangannya itu. Khuwaylid memiliki anak2 lain tetapi Khadijah adalah buah hatinya. Mungkin karena ia satu2nya anak yg berhasil. Orang dgn kepribadian codependency ini, sering tumbuh dlm bayang2 orang tua yg dominan dan menyanjung mereka. Mereka menjadi obyek obsesi orang tua mereka. Di mata mereka, fungsi mereka hanyalah agar menampakkan orang tua mereka baik dimata orang luar. Mereka diharapkan menjadi seorang 'wunderkind’.

Akibat bertubi-tubinya tuntutan akan kemampuan maksimalnya, sang anak tidak mampu mengembangkan kepribadiannya sendiri. Ia tidak merasa dicintai karena SIAPA ia tetapi karena APA yg berhasil dilakukannya. Belum lagi dgn adanya seorang ayah pemabuk yang sering membebankan sampah emosionalnya pada anak2nya yg dianggap paling berpotensial, sbg kompensasi atas kegagalan dan kekurangan sang ayah.

Para penderita codependent tidak mendapatkan kepuasan dan kebahagiaan dari teman-teman yg sehat secara emosional. Itulah mengapa Khadijah menolak lamaran lelaki2 yg sukses dan matang. Orang yg cocok bagi seorang codependent adalah seorang narsisis (seseorang yg cinta diri sendiri) yg sendirinya juga memiliki kebutuhan yg tidak terpenuhi. Seorang codependent sering membingungkan rasa cinta dengan rasa kasihan, mereka bertendensi utk “mencintai” orang yg bisa mereka kasihani dan bisa mereka selamatkan.

Nama lain bagi codependency adalah "self effacing" atau "inverted narcissist/narsisis terbalik”. Inilah yg dikatakan Dr. Sam Vaknin, penulis Malignant Self Love (Cinta Diri yg Merusak) ttg hubungan antara seorang codependent dan seorang narsisis:
“Sang inverted narcissist hanya mampu MERASAKAN sesuatu saat ia berada dlm hubungan dgn narsisis lain. Sang inverted narcissist diprogram dari permulaan utk menjadi pasangan sempurna sang narcissist – guna saling mengipas Ego mereka, yg satu menjadi ekstensi kepribadian yg lain, hanya utk mendapatkan pujaan dan pengelu-eluan.” Secara sosial dan dlm hal bisnis, sang inverted narcissist sering orang sukses tetapi hubungan mereka sering tidak sehat. Khadijah sudah menikah dua kali dan memiliki 3 anak. Tidak ada sesuatupun yg tercatat ttg para mantan suaminya. Ia hanya digambarkan sbg janda. Apakah kedua atau salah satu suaminya mati atau apakah kedua perkawinannya gagal ? Memang ini tidak lagi penting. Yg penting sekarang adalah hubungannya dgn Muhamad dan peran pentingnya dlm menjadikan Islam sbg agama.

(Dlm buku saya, saya memberikan lebih banyak bukti ttg keadaan mental codependency Khadijah)
Memang pasangan Muhamad-Khadijah cocok sekali ! Muhamad seorang narsisis yg haus akan pujaan dan perhatian. Ia miskin, yatim piatu dan memiliki kebutuhan emosional tinggi. Ia memerlukan seseorang utk mengemong dan memenuhi kebutuhannya, seseorang yg bisa dimanfaatkan dan dikasarinya spt caranya anak2 memanfaatkan dan meneror orang tua. Kematangan emosional sang narsisis dibekukan saat masa kecilnya. Kebutuhan kanak2nya tidak pernah dipenuhi. Ia terus mencoba memuaskan kepentingan ke-kanak2annya. Semua bayi memang narsisis dan ini memang tahap penting dalam pertumbuhan mereka. Tetapi jika narsisisme ini tidak dipuaskan semasa kanak2, kematangan emosional mereka akan dibekukan pada tahap itu. Mereka mencari perhatian yg tidak mereka dapatkan pada masa kecil mereka dlm hubungan mereka saat dewasa nanti.

Ibn Sa'd mengutip Muhamad sbg mengatakan bahwa semua keluarga suku Quraish memiliki hubungan darah dgnnya dan oleh karena itu Allah dlm Quran 42:23 memerintahkan mereka utk mencintainya, walaupun mereka tidak suka pesan yg ia bawa. [Tabaqat Vol.1 hal.3] Tidak sulit utk mendengar jeritan haus akan cinta kasih dan perhatian, seorang lelaki yg disepelekan semasa kecilnya.

Muhamad adalah orang yg sangat memiliki kebutuhan emosional. Khadijah, dilain pihak, merupakan seorang inverted narcissist yg memerlukan obyek perhatian selain memenuhi fantasinya di ranjang. Seorang codependent tidak peduli jika ia dimanfaatkan orang lain, karena ia memang menginginkannya (Contoh bagus: lihatlah hubungan antara Pangeran Charles and Camilla Parker-Bowles).

Vaknin menjelaskan: “Sang inverted narcissist menggantungkan diri pada sang narcissist utama dan ini memang merupakan suplai narcissistik-nya. Jadi kedua tipe ini menjadi dua orang yg saling mendukung dan membentuk sebuah sistim simbiosis. Kenyataannya namun demikian adalah, baik sang narsisist maupun sang inverted narcissist sadar akan dinamika hubungan mereka dan apa yg menjadikan hubungan mereka sukses dan awet.”

Bridget Murray dlm "Mixing oil and Water/Mencampur minyak dan air" mengatakan : "Psikolog sering melihat pola khas dlm pasangan macam ini: keduanya memiliki kepribadian tidak beres (personality disorder). 'Mereka nampak memiliki “fatal attraction” dimana pola kepribadian mereka saling bertentangan tapi saling mengisi— dan jika mereka cerai, mereka akan tertarik pada pasangan yg mirip mantan pasangan mereka,' kata Kaslow."

Hubungan simbiotik antara narcissist Muhammad dan inverted narcissist Khadijah memang sempurna.
Muhamad tidak lagi harus bekerja setelah menikahi Khadijah yg kaya raya. Ia menghabiskan waktunya dlm goa2 dan mondar-mandir sambil menikmati fantasinya dimana ia adalah orang yg paling disayangi & paling dipuja diatas permukaan bumi ini. Khadijah begitu sibuk dgn suaminya yg narcissist ini, memuaskan kebutuhannya, sampai melupakan urusan dagangnya. Bisnisnya kemudian menurun dan kekayaannya menyusut drastis. Dari Muhamad ia mendapatkan 7 anak. Yg paling muda adalah Fatimah, saat Khadijah berusia lebih dari 50 thn. Ia menjaga ke-10 anaknya seorang diri. Suaminya tidak pernah dirumah, tapi lebih sering menyendiri di gua2 mentalnya. Pada saat Khadijah meninggal, kekayaannya habis dan Muhamad melarikan diri ke Medinah. Ia begitu miskin sampai menggantungkan diri atas sumbangan buah kurma dari kaum Yahudi dan pengikutnya dari Medinah.
Vaknin mengatakan:
"Hanya dgn pengorbanan dirinya, pasangannya bisa sukses. Ia mengorbankan keinginannya, harapannya, mimpinya, kebutuhan seksual, psikologis & materialnya, pokoknya semuanya yg bisa mengundang kemarahan sang Dewa Narsistik- sang tokoh utama. Sang narcissist bahkan semakin nampak superior dgn pengorbanan pasangannya ini. Semakin hebat sang narcissist, semakin mudah pengorbanan pasangannya, dan akhirnya sang pasangan itu akhirnya hanya sekedar sbg buntut/appendix sang Narcissist. Sang pasangan ini kemudian membaur dgn sang narcissist sampai pada titik tidak berarti dan bahkan tidak lagi dapat mengingat diri sendiri."

Sang narcissist sering menuntut pengorbanan dari pasangan co-dependent-nya. Dan pasangannya yg mabuk cinta itu dgn senang hati mengikuti segala perintahnya.
Contoh :
John de Ruiter dari Alberta, Canada, adalah orang yg menyatakan diri sbg Sang Juru Selamat, The Messiah. Dan pengikutnya yang bodoh mengiyakannya. Joyce, isterinya yg cerai darinya setelah 18 tahun perkawinan mengatakan, ia memang sangat mencintai suaminya. Tetapi dalam tahun terakhir perkawinan mereka, John lebih suka menghabiskan waktu dgn kedua adik perempuan Joyce yg cantik. Saat sang isteri mengajukan keberatan, pertama2 sang suami membantahnya. Tetapi affair2nya itu kemudian segera menjadi rahasia umum. Buru2 John menegaskan cintanya kpd isterinya dan bahwa selingkuhnya dgn 2 wanita cantik itu bukan karena nafsu. Ini pepatahnya bagi pengikutnya; “Hidup dalam suatu kode atau struktur moral menghancurkan cinta kasih.” Narcissists memang sering hidup DILUAR kode moral manapun. Ego mereka terlalu besar utk tunduk pada moralitas atau aturan. Bodohnya, Joyce juga tidak meninggalkannya, sampai suatu hari suaminya datang dgn berita dahsyat. "Kami sedang duduk di dapur sambil mengisap rokok," kata Joyce, "Ia berbicara tentang ‘kematian’ saya. Ia mengakui bahwa saya telah melalui banyak kematian, hal yg bagus, menurutnya. Saya harus melepaskan 99% dari hidup saya. Tetapi ia tidak akan membiarkan saya ‘mati’ begitu saja. Katanya, kematian saya yg paling dahsyat adalah jika ia diijinkan mengambil 2 isteri lagi." Joyce mengatakan dia menyangka suaminya cuma melucu. Ternyata tidak ! Ia mengangkat masalah ini utk kedua kalinya dan meminta Joyce apakah ia merasa 3 isteri bisa hidup dalam rumah yang sama. Ini kemudian membuka mata Joyce. Untungnya Joyce belum pada tahap co-dependent berat, shg ia tidak sudi menerima penghinaan ini. Seorang co-dependent asli akan melakukan apapun utk menyenangkan pasangan narcissist-nya. Hubungan antara co-dependent dan pasangan narcissist-nya adalah : sadomasochisme. Joyce tidak tahan lagi akan penghinaan dan pelecehan ini dan meninggalkan suaminya yg sakit jiwa ini.
Sedihnya bagi umat manusia, KHADIJAH MEMANG CO-DEPENDENT ASLI, yang sudi mengorbankan apapun bagi narcissist tercintanya. Untung bagi Khadijah, Muhamad masih menghormatinya sehingga selama Khadijah masih hidup, Muhamad enggan mengambil isteri lain. Jangan lupa bahwa Khadijah yg memegang keuangan keluarga. Muhamad sendiri tidak memiliki satu sen-pun, shg sulit baginya utk membawa isteri muda kerumah Khadijah. Lagipula, mayoritas penduduk Mekah menjadikannya bahan olok-olokan. Ia dicap GILA ! Tidak seorangpun mau mengawininya, bahkan sekaya apapun dia. Di Mekah, pengikutnya berjumlah kurang dari 80 orang dan kebanyakan adalah budak. Kalau Khadijah tetap hidup menyaksikan meningkatnya kekuasaan suaminya, kemungkinan besar ia harus menelan penghinaan dimadu.
Dinamika antara pasangan narcissist dan co-dependent adalah komplex, merusak/abusive tetapi saling memuaskan. Keduanya orang2 yg memiliki kebutuhan besar dan hanya pasangannya-lah yg dapat memenuhi keinginannya.
Ini mengikat keduanya kedalam simbiosis memuakkan tapi awet. Kalau hubungan simbiosis ini putus, misalnya oleh kmatian salah satu pasangan, yg lainnya tidak dapat membentuk hubuhngan syg sama dgn orang lain, kecuali ia menemukan pasangan yg sama sakitnya. Ini alasan mengapa setelah kematian Khadijah, Muhamad menjadi gila wanita dan menciptakan harem dgn sebanyak mungkin wanita yg mampu didapatkannya. Ia mencoba mencari kompensasi atas kehilangan “sugar mommy”-nya dgn sex. Ia tgerus menerus menambahkan koleksi wanita tetapi tidak ada seorangpun yg bisa memenuhi kebutuhan tidak normalnya itu. Ia memerlukan perlindungan dan cinta kasih. Ia, walaupun sudah berusia lanjut, tetap merindukan sosok ibu, sesuatu yg tidak dapat diberikan anak2 ingusan macam Aisya.
Belum ada seorangpun yg menganalisa hubungan Muhammad-Khadijah secara kritis macam ini. Dalam buku saya “From Mecca to 9/11” saya menunjukkan profil psikologis Muhammad dan hubungannya dgn mereka yg dekat dgnnya. Kami hanya bisa mengerti fenomena Muhammad, jika kita dapat mengerti psikologinya dan hubungannya dng ibunya, orang tua angkatnya, kakeknya, pamannya dan isterinya.

3) AISYAH

Nah Sdr Alireza:
Anda juga mengatakan: “Setelah Khadijah meninggal, banyak wanita cantik lainnya mencoba merebut hatinya tetapi tidak berhasil, dan hanya Aisha yg berhasil.” Maksud anda apa ? Bahwa seorang anak ingusan berumur ENAM TAHUN JATUH CINTA PADA LELAKI BERUMUR 51 TAHUN ?? Bahwa Aisyah-lah yg mencoba merebut hatinya ? Dimana logika anda ? Pernyataan anda ini bahkan tidak dapat diterima kalau anda seorang Muslimn yg tidak berpendidikan. Tapi anda ini mengaku sbg ilmuwan nuklir. Jadi mana logika anda ? Bagaimana hal konyol ini bisa keluar dari mulut seorang professor macam anda ? Terlepas dari logika rancu anda, sejarahpun membuktikan bahwa anda SALAH ! Bukan Aisha yg berusia 6 tahun ini yg jatuh cinta pada Muhamad, orang yg cocok menjadi kakeknya. Malah terbalik ! Saya sudah mengutip hadis2 ttg subyek ini dalam artikel saya yg didedikasi kpd Aisha. Tetapi biarlah saya mengulangi hadis yg mengatakan bahwa Muhamad sering berfantasi ttg anak kecil bernama Aisha.
Sahih Bukhari 9.140
Diriwayahkan 'Aisyah:
Rasulullah mengatakan kpd saya, "Kau ditunjukkan kepada saya dua kali (dalam mimpi saya) sebelum saya mengawinimu. Saya melihat malaikat menggendongmu dalam kain sutera, dan saya mengatakan kpd nya, 'Bukalah ia,' dan lihatlah, ternyata nampaklah kau. 'Kalau ini dari Allah, maka ini harus terjadi.'

Lalu kau ditunjukkan kepada saya, malaikat mengangkatmu dalam kain sutera dan saya mengatakan …. idem-diulang lagi … kalau ini memang dari Allah, maka ini harus terjadi.' "

Hadis berikutnya menunjukkan bahwa Muhamad-lah yg mendatangi ayah Aisyah, Abu Bakr, dan melamar Aisyah.
Sahih Bukhari 7.18
Diriwayahkan 'Ursa:
Nabi meminta Abu Bakr utk meminang 'Aisha. Abu Bakr mengatakan "Tetapi saya saudaramu." Nabi mengatakan, "Kau saudara saya dalam agama Allah dan KitabNya, tetapi ia (Aisha) sah bagi saya utk dikawini."
Abu Bakr yg bodoh ini tadinya kaget dan mencoba membantah tetapi tidak dapat menolak kemauan si pedofil Muhamad. Ia hanya berhasil membuat Muhammad menunggu 3 tahun, menunggu pertumbuhan Aisha.

4)Dalam point kedua anda anda menulis: “Katakahlah ia seorang penipu ; OK, tetapi ia pastinya seorang penipu yg sangat jitu !!”

BETUL ! Muhamad memang penipu jitu. Ia penipu psikopat. Ini jelas berbeda dgn cara saya dan anda berbohong. Kami tidak dapat berbohong macam cara psikopat dan meyakinkan orang akan kebohongan kami. Saya tidak dapat membohongi keponakan saya yg berumur 5 tahun ttg dimana saya menyembunyikan permennya.
Saya tidak dapat menahan geli kalau saya berbohong. Namun seorang psikopat adalah yang pertama yg percaya kebohongannya sendiri. Ini sudah saya bahas panjang lebar dalam artikel lain. Saya tidak akan mengulanginya lagi dan mengundang anda utk membacanya.
Judulnya : The Secret of Muhamad's Success/Rahasia Sukses Muhamad
Faithfreedom IndonesiaKembali Ke Atas


Sumber : AkalBudiIslam

Muhammad: Berani “Omong Besar” Demi Mendukung Kenabiannya

Sepanjang kenabiannya, Muhammad terkenal dengan keberaniannya yang luar biasa untuk berbicara dan bersoal jawab tentang segala macam isyu, mulai dari ilmu kosmologi, kisah orang, raja dan nabi-nabi terdahulu, soal pengobatan, sex dan genetika, perang dan terror dan tipu-daya, ilmu jin, setan dan malaikat, ilmu surga dan neraka, bahkan ilmu gaib dan angka-angka dst. Begitu luar biasa cakupannya sehingga kebablasan dalam kontradiksi dan terkesan spekulatif, omong besar, atau membual. Itulah taruhan Muhammad demi meneguhkan posisi kenabiannya yang memang tidak diteguhkan oleh Allah secara absah, melainkan tampak hanya mengatas-namakan Allah saja. Bagaimana mungkin?

Pertama-tama, kita menyaksikan omong besarnya tentang dirinya sebagai RASUL ALLAH.
Kita bertanya, kapan dan siapa yang mengangkat beliau sebagai Rasulullah? Muslim akan menjawab bahwa dia diangkat sebagai Nabi sejak menerima wahyu pertama di gua Hira. Kita tanya lebih kritis, diangkat oleh siapa untuk misi apa? Tanpa ada oknum dan misi yang bersifat ILAHIAH, Muhammad yang “kesurupan” ruh digua Hira itu tentu tidak bisa mengklaim atau memproklamirkan dirinya sebagai Nabi.Kalau saja Muhammad memproklamasikan dirinya sebagai “al Amin” (seperti yang ditunjukkannya dalam kasus pemindahan batu Hajar Aswad), maka mungkin saja itu bisa diterima langsung oleh sebagian orang Arab dan Yahudi dan Nasrani. Tetapi ini tidak tanggung-tanggung, ia langsung mengklaim dirinya Utusan Tuhan, Allah Yang Maha Tinggi! Apa sumber dan bukti yang ada pada dirinya untuk mengklaim kenabiannya? Dia pada waktu itu tidak punya apa-apa kecuali hanya punya dua bentuk sumber daya saja, yang tidak mungkin merupakan alat bukti pentahbisan sebagai Utusan Allah.

Sumber daya pertama adalah RUH tanpa nama, tanpa jati-diri yang tiba-tiba datang dan menteror-nya dengan berseru: Iqra! lalu mencekik lehernya. Dan ini diulang sampai 3 kali.
Sumber daya kedua adalah 5 KALIMAT yang dipaksakan ruh tersebut untuk dibaca oleh Muhammad, yaitu Sura Al-Alaq 96, ayat 1-5. Tetapi karena Muhammad tak mampu, maka ruh membacakan baginya,

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam
5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Nah, dengan modal seperti ini, maka dimanakah unsur pemeteraian seorang Nabi Tuhan? Dimanakah TANDA-ilahi yang selalu disertakan Tuhan bagi nabi yang diurapiNya? Bandingkan dengan Musa yang jelas diutus oleh Tuhan sendiri secara amat khusus walau Musa tadinya menolak penetapan kenabian tersebut (Keluaran 3:10 ff hingga pasal4). Bandingkan pula dengan Yesus yang malah dimaklumatkan oleh Tuhan Yahweh sendiri dengan suara yang menggelegar dari langit. Disaksikan oleh masa yang mengerubungi Nabi Yahya ketika Yesus selesai dibaptis (Matius 3:16-17). Semuanya terang benderang, sah ilahiah, dan tidak ada yang tidak tegas ketika Tuhan mau menetapkan seseorang sebagai rasulNya.

Tidak demikian dengan Muhammad yang justru pada awalnya dia merasa telah dikunjungi (baca: kerasukan) oleh ruh setan! Dan Hadis dan Sirat mencatat bahwa atas “kegigihan” Khadija-lah naka Muhammad akhirnya mulai tenang dan percaya bahwa ruh yang mengujunginya bukanlah setan melainkan malaikat. Itulah yang dipercaya Muslim sebagai tonggak sejarah “pengangkatan” kenabian Muhammad yang bermula dari pasangan suami-istri ini!! Para ulama sependapat bahwa tanpa Khadija, tak ada Nabi Islam dan Islam itu sendiri!

Tetapi pertanyaan pokok kita adalah, apakah Anda ada melihat “tangan dan mulut” Allah Yang Maha Tinggi sendiri ikut terlibat dalam pengangkatan Muhammad sebagai nabi (seperti kasus Musa dan Yesus misalnya?). Tidak ada! Dan siapa itu ruh misterius (tanpa nama tanpa wajah) itu yang berani berbicara atas nama Tuhan yang kelak disebut sebagai Allah SWT? Bukankah setiap ruh jahat memang bisa dan selalu ingin berbuat persis seperti itu, demi mengaburkan sosok Tuhan Sejati untuk dialihkan kepada dirinya? Ruh ini sungguh tidak punya “dokumen ilahi” samasekali. Ia tidak bermujizat atau bernubuat adikodrati sebagaimana yang seharusnya diperlihatkan kepada orang yang Tuhan pilih, agar tidak disesatkan oleh ruh jadi-jadian (ingat kasus Zakharia dan Maryam, keduanya dinubuatkan Gabriel untuk mendapatkan anak secara mustahil; yang satu karena isterinya yang sudah mati rahim, yang lain karena masih perawan). Ruh misterious ini tidak membawa kuasa adikodrati, melainkan terror yang menakutkan.

Celakanya lagi, kelima kalimat-surga yang dibawakan ruh tersebut ternyata tidak dibenarkan oleh ilmu kedokteran. Manusia samasekali bukan diciptakan dari segumpal darah. Dan dengan demikian ayat-5 menjadi terbalik, karena seharusnya berbunyi: “Dia (telah) mengajar kepada manusia (sesuatu) apa yang tidak ketahuiNya sendiri”.

Kini kita bisa mengerti kenapa banyak orang yang tidak percaya akan kenabiannya dan bahwa kalimat-kalimat yang dibawakan Muhammad itu bukanlah wahyu dari surga. Samasekali tak tampak otoritas dari “dokumen kenabian” Muhammad ketika diperhadapkan dengan apa yang Tuhan TANDAI pada Musa dan Yesus. Mereka melecehinya dengan pelbagai cemoohan:

*”Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) suatu tanda dari Tuhannya?” (13:7).
*“Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu” (11:13).
*“…tatkala mereka mendengar Al Quran dan mereka berkata:
“Sesungguhnya ia (Muhammad) benar-benar orang yang gila” (68:51)
*”Datangkanlah Al Quran yang lain dari ini atau gantilah dia.” (10:15)

Kita percaya bahwa kritik dan pelecehan “orang-orang kafir” terhadap Muhammad dimasa itu jauh lebih banyak dan berbobot (beralasan) dibandingkan dengan apa yang telah Muhammad dan sahabat-sahabatnya cantumkan secara sepihak didalam Quran. Pantas bahwa kuping Muhammad menjadi merah, dan sensitivitasnya sangat tersinggung ketika keabsahan kenabiannya dipertanyakan orang. Beliau berusaha tiada hentinya untuk mencari dan menunjukkan bahwa diapun tidak kekurangan “dokumen kenabian” yang diperlukan. Untuk itu beliau tidak segan-segan berbual omong besar tentang hal-hal yang sesungguhnya diluar batas kemampuan pengetahuannya, hanya demi kompensasi untuk “membuktikan” bahwa dia adalah Nabi Besar yang tahu apa-apa yang manusia lainnya tidak tahu. Konsep ini berhasil mengesankan orang-orang Arab Quraisy/ Beduin yang memang kurang berilmu dan buta huruf, namun tidak demikian dengan kaum Yahudi dan Nasrani yang memegang Taurat dan Injil, yang diakui oleh Muhammad sendiri:

“didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi)” (5:46).

Muhammad juga mengakui bahwa Isa mengetahui hal-hal yang ghaib (3:49), sementara harus menelan kenyataan pahitnya bahwa ia tidak diberi kuasa demikian:

”Dan aku tidak mengatakan kepada kamu (bahwa): Aku mempunyai gudang-gudang rezki dan kekayaan dari Allah, dan aku tiada mengetahui yang ghaib (Sura 11:31).

Sekalipun demikian, Muhammad tetap nekad berlaku kontradiktif dengan omong besarnya seolah ia “serba tahu” tentang hampir semua issu dan keghaiban yang dipertanyakan orang (untuk mengujinya) ataupun yang tidak dipertanyakan. Muhammad justru terlalu berani mengklaim mengetahui tetek-bengeknya hal-hal ghaib yang tak masuk akal yang justru tidak diwahyukan Allah kepadanya. Sampai sampai juga berani menentang ayat yang membatasi pengetahuannya tentang RUH (17:85), namun tetap saja ia melabraknya dengan mendongengkan begitu banyak perkara-perkara yang berkenaan dengan malaikat, jin, setan dll ruh. Lihat antara lain secuil contoh omong-besar Muhammad yang tanpa bukti dan rincian, seperti berikut ini:

air kencing unta campur dengan susunya bisa jadi obat sehat (Shahih Bukhari 154)
salah satu sayap lalat mengandung obat (yang menjadi penetral bagi sayap lainnya yang mengandung penyakit) (S.Bukhari 1463)
panasnya api neraka-lah yang menyebabkan demam (S.Bukhari 4/483-486)
secara fisik sudah melihat surga dan neraka (Shahih Muslim 378)
melihat neraka, banyak berisi kaum wanita (S.Bukhari 1755)
melihat Isa, warna kulitnya kemerah-merahan, bertawaf di Ka’bah (S.Bukhari 1499)
mengklaim dirinya paling dekat dengan Isa anak Maryam, baik didunia maupun di akhirat (S.Bukhari 1501)
tahu dan bisa tunjukan makam Musa, di dekat tumpukan katsibil ahmar (S.Bukhari 694)
pernah membelah bulan menjadi dua keping terpisah dengan pedangnya (S.Bukhari 4/830-832 dll)
kalau keledai meringkik, itu tandanya ia melihat setan (S.Bukhari 1462)
tahu kenapa seorang anak menjadi mirip ayahnya atau ibunya (S.Bukhari 1465)
dapat wahyu melihat Jibril punya 600 sayap (S.Bukhari1437)
ruh itu bagai tentara berbaris: berdampingan dalam kelompoknya yang sesuai, dan saling berjauhan bila tidak bersesuaian (S.Bukhari 1468)
tahu jin-jin dan ruh makan kotoran hewan dan tulang belulang (S.Bukhari 5/200)
setan bermalam dilubang hidung (maka ketika berwudu, semburkanlah air dari lubang hidung 3 kali) (S.Bukhari 1458)
menyatakan para malaikat tidak akan menemani kelompok orang yang bepergian dengan membawa lonceng (Dawud, Buku 14, no.2548. Itu sebabnya a.l. Somalia kini mengharamkan lonceng di sekolah-sekolah maupun gereja. Padahal bunyi lonceng tadinya adalah salah satu tanda dimana Muhammad menerima wahyu yang mulia). Dst.
Semua petikan diatas adalah shahih terpercaya menurut Islam. Dan list absurditas Muhammad ini bisa diteruskan beratus-ratus halaman. Apakah Muslim bisa sungguh-sungguh mempercayai Nabinya sebagai insan kamil yang tak akan bersalah? Omongan dan tindakannya yang harus ditiru dan diamalkan? Lihatlah daftar omong-besar diatas, tidak satupun yang science-approved dan masuk akal, dan tidak satupun yang bernilai teologis atau yang berguna bagi kemanusiaan.! Semuanya hanya dibualkan oleh Muhammad secara berani kepada moyang Arab demi menutupi ketekorannya akan “dokumen kenabiannya”.

Maka disinilah tergenapi secara tepat dua milenium (!) sebelumnya apa yang telah dinubuatkan oleh Nabi Musa tentang sosok Muhammad yang dipertentangkan terhadap sosok Yesus Mesias sbb:

Seorang nabi (Mesias) akan Kubangkitkan bagi mereka dari antara saudara mereka, seperti engkau ini; Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya, dan ia akan mengatakan kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadanya.

Orang yang tidak mendengarkan segala firman-Ku yang akan diucapkan nabi itu demi nama-Ku, dari padanya akan Kutuntut pertanggungjawaban.


Tetapi seorang nabi (sesudah Mesias), yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati.


Jika sekiranya kamu berkata dalam hatimu: Bagaimanakah kami mengetahui perkataan yang tidak difirmankan TUHAN? — (yaitu) apabila seorang nabi berkata demi nama TUHAN dan perkataannya itu tidak terjadi dan tidak sampai, maka itulah perkataan yang tidak difirmankan TUHAN; dengan terlalu berani nabi itu telah mengatakannya, maka janganlah gentar kepadanya.” (Keluaran 18:18-22).



 

KESIMPULAN:

Bukankah kalimat-kalimat yang diucapkan Muhammad itu terlalu berani dan spekulatif? Muhammad tidak dikaruniai ilmu ghaib dan ilmu ruh. Bagaimana ia berani sesumbar itu?
Bukankah kalimat-kalimat yang berkontradiksi dengan wahyu Tuhan, tidak bernilai teologis, tidak bermanfaat bagi kemanusiaan, dan mubazir seperti itu, pasti bukan perkataan yang difirmankan Tuhan?
3. Bukankah pernyataan-pernyataan tanpa bukti yang menina bobokan moyang Arab itu “tidak satupun yang terjadi dan sampai”, karena memang semuanya omong kosong belaka yang mengatas namakan Allah?

4. Kenapa Tuhan berpesan dalam nubuat khusus Musa agar kita “jangan gentar kepada nabi tersebut”? Tentulah dengan alasan Tuhan yang Mahatahu bahwa nabi sesudah Mesias itu pasti terbiasa menteror sehingga menggentarkan orang pada umumnya. Dan genap pula nubuat ini digenapi oleh Muhammad yang mengakuinya secara berani tapi tanpa sadar: “Saya telah dibuat menang lewat teror” (S.Bukhari 4/52/220)

5. Muhammad merasa menang, seolah lawannya kalah. Akan tetapi apa alasan Tuhan maka kita disuruhNya untuk jangan gentar kepada nabi ini? Dan Tuhan menjawabnya sendiri: “Nabi itu harus mati”.
Jadi kembali tergenapi nubuat Musa bahwa dua nabi yang dipertentangkan diakhir zaman ini, yang satu tetap hidup disisi Tuhan, sedang yang lain MATI.

Teman Muslim mungkin tahu apa yang dimaksudkan dengan “mati” disini, namun biasanya kurang awas bahwa Musa (dan Yesus) membicarakan dua jenis kematian: Mati jasmani, dan kematian kekal dineraka kelak di Hari Penghakiman! Muhammad datang menjanjikan kematian kekal yang sudah dimestikan (Sura 19:71), tetapi Yesus datang untuk memastikan kehidupan kekal:

Kata Yesus: “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati, dan setiap orang yang hidup dan yang percaya kepada-Ku, tidak akan mati selama-lamanya. Percayakah engkau akan hal ini”? (Yohanes 11:25-26).

Dan Dia buktikan dengan membangkitkan Lazarus yang telah mati dikubur 4 hari! Ini bukan perkara main-main, bukan spekulasi, bual dan gertakan, melainkan soal hidup mati Anda dan saya sebelum terlambat. Percayakah engkau kepadaNya, sosok paling terkemuka didunia dan di alam akhirat?


Sumber: AkalBudiIslam

Terjemahan

 
Copyright © 2011. Islam Dalam Fakta - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger